Nutella Brownies

Comment

Nutella Brownies

Semalam, tiba-tiba saya kepingin makan brownies. Padahal saya sedang asik nonton drama korea, Witch Court. [Btw, yang suka drama korea harus nonton Witch Court. Konyol, lucu, dan karakter perempuannya tegas, cerdas, dan yang bukan manja-manja gemes gitu.]

Anyway, saya cek ke pantry, ternyata semua ingredients untuk bikin (nutella) brownies tersedia. Long story short.. Jadilah saya eksekusi si brownies.

Btw, walaupun namanya Nutella Brownies, tapi saya tidak menggunakan Nutella (untuk alasan pribadi :) Saya ganti Nutella dengan Hazelnut Chocolate Spread dari Simple Truth Organic.

 Hazelnut Chocolate Spread dari Simple Truth ini sama enaknya dengan Nutella.

Hazelnut Chocolate Spread dari Simple Truth ini sama enaknya dengan Nutella.

Penambahan Nutella (atau Hazelnut Chocolate) akan membuat rasa dan tekstur brownies ini.. out of the world. Fudgy, goeey, ada sedikit sentuhan rasa hazelnut, nyoklat.. overall enak bangetttt!

Saya sudah mencoba beberapa resep Nutella Brownies, tapi saya paling 'pas dengan resep ini. Resep asli menggunakan 1 1/4 cup gula, tapi saya pikir koq banyak banget, akhirnya saya kurangi hanya 2/3 cup saja.
 

Gampang banget kaaan???

Ngga bo'ong deh.. Ini enak banget. Sok dicoba! :)


~Nizar

Comment

Ahok dan Karangan Bunga

Comment

Ahok dan Karangan Bunga

Mari bicara karangan bunga.

Alasan apalagi kalau bukan kebencian berlebihan personal ketika karangan bunga pun di jadikan 'topik' perdebatan?

Kalau iya memang Pak Ahok sendiri yang mengirimkan ribuan karangan bunga itu, lalu kenapa?
Kalau iya memang Pak Ahok berarti berbohong karena mengirimkan ribuan karangan bunga itu tapi atas nama orang lain, lalu kenapa?

Bohong? Dosa? So what? Itu urusan dia dengan Tuhan nya.

Mungkin banyak juga yang lupa, walaupun Pak Ahok tidak menang, masih ada 43% sekian orang yang memilih dia, yang siapa tahu memang mengirimkan karangan bunga tersebut.

Husnudzon dan ikut bahagia untuk orang lain apalagi lawan itu memang susah, ya?

Wallahu'alam.

sakura

PS: Ketika tidak punya stock foto karangan bunga, maka foto sakura pun tak apalah :)

Comment

Comment

Sepuluh Menit

Janjian sama Marinir jam 0915, eh jam 0905 mereka kirim text, "Ma'am we are in front of your door. We are ready whenever you are."
Gah, gw baru kelar pakai kerudung, dan baru mau pasang sepatu, plus oles gincu.

Janjian sama Navy jam 15.30, mereka baru muncul jam 1540. Kita mah udah kelar bagi-bagi konsumsi.

Disclaimer:
Ini kasuistis. Jangan men-generalisir.

Comment

Comment

"Innocent Until Proven Guilty"

Sepertinya profesi yang paling digemari saat ini adalah menjadi ahli politik dan hakim.

Bukan ahli politik lulusan jurusan politik. Tapi ahli politik lulusan sharingan atau postingan sosial media.
Bukan hakim di pengadilan resmi, tapi hakim produk sosial media.

Sepertinya, "Innocent Until Proven Guilty", sama sekali tidak ada artinya.

Konsep ghibah dan fitnah pun blas dipinggirkan saat ber-opini, padahal Rasulullah SAW bersabda: "Seseorang hamba yang membicarakan sesuatu yang belum jelas baginya (hakikat dan akibatnya), akan dilempar ke neraka jahanam sejauh antara timur dan barat." ~ Riwayat Muslim

Dulu saya juga pernah ikut-ikutan jadi si ahli politik, dan kadang sambilan jadi si hakim. Tapi untungnya menjadi photographer lebih menyenangkan, dan saya tidak pernah terpikir untuk berselingkuh kembali dari kamera saya. *insyaf*

Salam sayang dari tukang foto!

Comment

Comment

Kembali Mengajar

Hari ini saya kembali mengajar.

Mengajar dan berbagi ilmu bersama beberapa perempuan cantik dari desa Iwakuni.
Gerogi, iya. Ah, andai saja saya mengajar dengan bahasa ibu, pasti semuanya lebih mudah.

Tapi, seperti dialog di drama Korea bilang, "FIGHTING!"

Hari ini saya kembali mengajar. Menyenangkan. Itu saja.

Comment

Comment

Bukan Mimpi

Bangun subuh ini, diluar windy banget. Agak horor klo denger suaranya, apalagi kita tinggal di lantai empat.

Semua barang yg saya taruh di balkoni kamar utama dan balkoni ruang makan sukses basah kuyup. Satu kardus besar harusnya saya kirim ke Indonesia kemarin, tp alih alih ketemu klien, pengiriman kardus saya tunda. Hasilnya, hari ini kardus berisi pakaian dan sepatu bekas basah. Yah, berarti saya harus cuci ulang isinya. Ah well...

Ngeliat dua balkoni di rumah segini basah kuyupnya, dan ngerasain besarnya angin di luar sana, saya jd ngebayangin gimana rasanya pengungsi yg baru aja kena gempa di Kumamoto, lalu misalnya hari ini mereka dealing sama hujan badai seperti sekarang.

Sementara, saya bangun dgn suami di sebelah saya (plus dua kucing 😒), diatas kasur nyaman, di dalam ruangan hangat dgn konstruksi yang katanya di bangun utk handle gempa.

Lalu, nikmat Tuhan mana lagi yg saya harus dustakan?

Jujur, kadang saya harus mencubit diri sendiri buat mastiin nikmat hidup yg selama ini saya dapat itu bukan mimpi.

"...jika kalian bersyukur niscaya akan Ku tambah (nikmatku) pada kalian..." 
- QS Ibrahim: 7

Iwakuni,
17 April 2016

Comment